Destinasi Wisata Rusak Usai Dibuat Lokasi Syuting Film

Destinasi Wisata Rusak Usai Dibuat Lokasi Syuting Film
Spread the love

Destinasi Wisata Rusak Usai Dibuat Lokasi Syuting FilmTren wisata yang dipengaruhi film adalah yang seharusnya baik. Namun ledakan turisme massal terkadang berimbas pada destinasi wisata rusak dan membludak.

Menjadi suatu keberkahan tersendiri ketika destinasi wisata di daerah kita diapresiasi dan menjadi antusias banyak pihak. Namun tak jarang bahwa ada sisi negatif yang mengiringi ketika suatu destinasi tersebut disukai banyak orang.

Begitulah yang terjadi pada banyak wisata yang dipakai untuk latar syuting film. Terlebih film yang populer. Tak jarang yang kemudian berimbas menjadi destinasi wisata rusak, tak terurus, banyak sampah, dan lain sebagainya.

Tentu saja hal ini bukan salah film. Bukan pula salah pengelola maupun destinasi wisata itu sendiri yang kelewat indah.

Namun kitalah sebagai penikmati wisata yang lalai dan abai atau bahkan hanya memburu untuk foto selfie berlatar lokasi syuting film tertentu. Hal ini tentu menyakitkan dan sungguh memprihatinkan.

Destinasi Wisata Rusak Usai Dibuat Lokasi Syuting Film

Destinasi wisata rusak dan membludak

Destinasi Wisata Rusak Usai Dibuat Lokasi Syuting Film

Pada Juni 2018 lalu, Pemerintah Thailand mengumumkan bahwa pantai yang menjadi lokasi syuting film The Beach (Danny Boyle, 2000) yang dibintangi oleh Leonardo Di Caprio terpaksa ditutup.

Baca Juga : Destinasi Wisata yang Fotogenik saat Bersalju

Setelah diangkat menjadi film dan populer, bisnis pariwisata di kawasan wisata Koh Chatai tersebut seketika menggila. Turis lokal dan mancanegara membludak. Hamparan pasir dan lautan yang sebelumnya sangat indah, kini menjadi bayangan dari masa lalunya.

Koh Chatai yang berpotensi untuk rusak selamanya, akhirnya memutuskan untuk memberikan lingkungan pantai tersebut rehat dari turis dalam maupun luar negeri. Penutupan area ini dimaksudkan agar terumbu karang punya cukup waktu untuk pulih.

Indonesia juga memiliki nasib yang serupa. Meski tak sampai pada tahap penutupan. Gunung Semeru kian memprihatinkan setelah Film 5CM (Rizal Mantovani, 2012) begitu populer dengan Fedi Nuril dan Herjunot Ali sebagai aktor utamanya.

Destinasi Wisata Rusak Usai Dibuat Lokasi Syuting Film

Destinasi Wisata Rusak Usai Dibuat Lokasi Syuting Film

Film 5CM begitu berkesan dan membekas. Hebatnya 5CM mampu membuat perubahan minat traveler Indonesia, yang tadinya hanya jalan-jalan di situ-situ saja. Beralih hobi menjadi seorang pendaki gunung, seperti tokoh-tokoh dalam film 5CM.

Baca Juga : Rekomendasi Jadwal Festival Yang Menarik Di November 2018

Dalam sekejap, film 5CM menjadi kiblat bagi sebagian dari kita untuk menjadi pendaki gunung. Namun karena tak banyak tahu soal pendakian, banyak orang yang mendaki tanpa ilmu, perbekalan yang matang atau pun geras yang safety.

Euforia film 5CM juga berimbas pada destinasi wisata rusak dan memprihatinkan. Antusias pengunjung tak dibarengi dengan tanggung jawab dan kesadaran masing-masing individunya. Karena sederhana saja, misalnya dalam hal membuang sampah.

Film dan bisnis pariwisata yang menjanjikan

Destinasi Wisata Rusak Usai Dibuat Lokasi Syuting Film

Tren wisata yang dipengaruhi film sebagai hal yang seharusnya baik. Pertumbuhan industri wisata meningkat dan para warga lokal bisa mengais keuntungan dari banyaknya turis yang berdatangan.

Baca Juga : Jelajahi Destinasi Wisata Sejarah Situs Warungboto Jogja

Hal ini tampak pada popularitas destinasi wisata di Irlandia Utara selepas Game of Thrones belokasi syuting disana. Dalam ranah Indonesia, ada pula Pulau Belitung dengan film Laskar Pelangi (Riri Riza, 2008) sebagai pemantik utama berbondong bondongnya wisatawan ke gugusan pulau indah tersebut.

Tetapi beberapa lokasi lain tidak seberuntung itu. Tak sedikit pula pekerjaan warga loka yang justru kehilangan pekerjaan utamanya dan memilih berdagang tiket dan lain sebagainya.

Seringkali tren-tren semacam ini bisa bermata dua. Menguntungkan bagi pihak-pihak industri, namun jjustru melemahkan bagi warga lokal yang tak mengerti apa-apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*